Rumah Kencana
Jumat, 16 Desember 2022
Asal Muasal Nama Kota Depok Dari Berbagai Versi
Rabu, 30 November 2022
Menelisik Bangunan Peninggalan Belanda di Depok Lama, Masih Kokoh Dan Eksis
![]() |
| Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Castelein di jalan Pemuda, Depok Lama (sumber foto: Kompas.com/Iwan Supriatna) |
Depok- Tidak hanya Kota Tua Jakarta yang memiliki bangunan peninggalan Belanda, tapi di Depok, sejumlah bangunan Belanda masih berdiri kokoh, terutama di sepanjang jalan Pemuda, Depok Lama, Jawa Barat.
Kawasan Belanda Depok terletak tak jauh dari Stasiun Depok Lama, yaitu Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok, Jawa Barat.
Beberapa peninggalan sejarah Belanda, antara lain rumah-rumah bergaya arsitektur tempo dulu, Jembatan Panus di Jalan Tole Iskandar, hingga Tugu Peringatan Cornelis Chastelein di Jalan Pemuda Depok.
Tidak hanya itu, juga terdapat Gereja GPIB Immanuel, Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), Rumah Tinggal Presiden Depok, serta tiang telepon pertama yang dibangun Belanda dan berdiri sejak tahun 1900. Tiang telepon ini terletak di Jalan Kartini Depok.
Jembatan Panus yang di bawahnya ada aliran Sungai Ciliwung, dari Bogor, Depok, hingga Jakarta, dibangun pada tahun 1917 oleh seorang insinyur Belanda bernama Andre Laurens. Nama Panus sendiri berasal dari Stevanus Leander, seorang warga yang dahulu tinggal di dekat jembatan itu.
Di kawasan yang kini disebut Depok Lama itu terdapat cukup banyak bangunan peninggalan Belanda. Walaupun ada juga bangunan rumah tempo dulu yang sudah berubah fungsi ataupun berubah bentuk.
Cornelis Chastelein adalah seorang tuan tanah asal Belanda yang juga mantan petinggi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), sebuah kongsi dagang Hindia Timur Belanda, 1602-1799. Keberadaan bangunan sisa kolonial di Depok Lama berhubungan dengan Cornelis Chastelein.
Kawasan Depok Lama masih menyisakan sejumlah mahakarya pemerintah Belanda tempo dulu, seperti bangunan bergaya arsitektur Belanda, yang memadukan arsitektur tropis dengan ciri berjendela besar dan beratap agak curam.
Perlu diketahui, Buku Gedoran Depok (Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955) yang ditulis Oleh Wenri Wanhar menceritakan Cornelis Chastelein semula adalah akuntan dan saudagar VOC, yang beralih menjadi tuan tanah karena tak cocok dengan kepemimpinan Gubernur Jenderal Willem van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704.
Setelah berhenti dari pekerjaannya di VOC, Chastelein serius menekuni bidang pertanian. Ia membeli tanah di daerah Gambir, Batavia, pada 1693, Srengseng pada 1695, Mampang pada 1696, dan Depok pada 1696.
Untuk menggarap tanah seluas 1.244 hektare di Depok, Chastelein membeli 150 budak dari Bali, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Jawa, dan India. Ketika meninggal dunia pada 28 Juni 1714, ia meninggalkan surat wasiat.
Ada 12 marga utama yang menghuni kawasan Depok Lama kini. Dua belas marga tersebut, yaitu Bacas, Isakh, Jonathans, Jacob, Joseph, Loen, Laurens, Leander, Tholense, Soedira, Samuel, dan Zadokh. Pewaris marga ini kemudian dikenal dengan sebutan 'Belanda Depok'.
Penyematan 12 marga itu hanya diturunkan dari garis laki-laki alias patrilineal sehingga perempuan yang menikah dengan marga luar dianggap putus secara genealogi.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu maka ada marga yang punah atau hilang, yaitu marga Zadokh. Tetapi, hilangnya marga Zadokh belum diketahui penyebabnya. Ada yang menyatakan tidak punya keturunan, ada juga yang menyebut Zadokh kembali ke keyakinan yang sebelumnya dianut.
Kawasan Belanda Depok yang erat kaitannya dengan Negeri Belanda membuat wilayah tersebut menyimpan banyak sejarah peninggalan Belanda. Hal ini membuat pejabat Kedutaan Besar (Kedubes) Kerajaan Belanda untuk Indonesia mengunjungi kawasan Depok Lama tersebut.
Kedatangan Dubes Belanda ini dimaksudkan untuk melihat peninggalan sejarah Belanda yang ada di kawasan Jalan Pemuda, Depok Lama, Kecamatan Pancoran Mas dan juga ingin menjadi kawasan wisata sejarah.
Duta Besar Belanda untuk Indonesia Lambert Grijns mengunjungi kawasan Depok Lama yang dikenal sebagai tempat tinggal Belanda Depok untuk melakukan pengembangan kawasan ini sebagai daerah cagar budaya dan wisata sejarah.
Dalam kunjungannya, ia bertemu dengan Wali Kota Depok M. Idris dan dari perwakilan Universitas Indonesia (UI) serta generasi ke-10 Cornelies Chastelein yang berada di Depok Lama.
Kawasan Depok Lama dinilai istimewa karena masih banyak gedung lama yang masih berdiri meski ada pula yang sudah dilakukan restorasi. Kendati demikian, kawasan ini dapat menarik turis, terutama dari Belanda.
Di kawasan ini Grijns bisa melihat secara langsung keadaan kawasan Depok Lama sehingga merasa ada ikatan untuk memperkuat hubungan dengan masyarakat dan pemerintah kota Depok, terutama yang berkaitan dengan beragama peninggalan (heritage) dan juga penelitian-penelitian.
Di Kota DenHaag, Belanda, sering mengadakan pameran tentang Depok dan buku-buku orang Belanda Depok, yang bertujuan membawa turis Belanda ke Depok.
Namun, kunjungan tersebut belum membahas secara mendetail mengenai kemungkinan adanya kerja sama merestorasi kawasan Depok Lama.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan Pariwisata Kota Depok Dadan Rustandi mengatakan pengembangan kawasan bersejarah Depok Lama masih dalam penjajakan dengan Belanda.
Pemerintah Kota Depok terus melakukan komunikasi dengan Universitas Indonesia dan Kedutaan Belanda di Indonesia.
Berbagai kajian penelitian sedang dilakukan untuk menjadikan kawasan bersejarah Depok Lama sebagai cagar budaya dan bisa menjadi wisata sejarah.
Editor: Donita Gerina Tolioe
Sumber: Detik.com
Rabu, 22 September 2010
Cemburu Buta, Dating Violance?????
![]() |
| diunduh dr:2.bp.blogspot.com |
Namun seiring dengan perjalanannya- kontak hubungan cinta menjadi keterikatan emosional. Ujung-ujungnya banyak pasangan yang mengklaim sebuah kepemilikan mutlak pada pasangannya. Mulai mengkontrol keseharian sang pacar- hingga melacak siapa saja yang dekat dengan pujaan hati.
Tiba-tiba saja ada seseroang yang mengagumi sang pacar, seketika mungkin ada rasa cemburu yang melanda. Katanya sih, dalam cinta harus ada cemburu. Sebab, cemburu adalah bumbu-bumbu cinta untuk menjaga kelanggengan hubungan asmara. Benarkah demikian?
Cemburu tanda tak percaya diri. Ada rasa tidak aman dari dalam diri- sehingga mencemaskan banyak hal- seperti takut pacar disamber orang atau takut ditinggal. Cemburu sebenarnya sangat terasa ketika seseorang meletakkan dirinya dalam perbandingan. Cemburu adalah sebuah teror pikiran yang mengharuskan pemiliknya terus bertanya-tanya dan bisa berkembang pada hal-hal buruk lainnya.
Kalau sudah begini, ada yang terus menerus me-nge-cek keberadaan sang pacar. Tak sedikit yang memasung sang pacar dan membatas kontak sosialnya. Ada juga yang harus bersama sang pacar- setiap saat dan setiap jam. Hubungan yang seharusnya mengarah pada perkembangan mental- malah lebih mengarah pada ketergantungan dalam segala hal. Duh, ikatan yang terjalin malahan mengubur pertalian cinta sejati.
Lagi-lagi nantinya sang pacar menguasai, mendominasi, seperti ini itu harus minta persetujuannya. Ke sini situ harus lapor. Pokoknya harus dan Mutlak!!!!! Duh, pacaran bukannya saling membangun malah bergelut dalam tekanan dan sangat mengganggu kondisi psikis.
Cemburu berlebihan memang bahaya. Efeknya bisa merembet kemana-mana dan membuat mereka yang mengidapnya tak sadar diri. Nah, bahkan banyak yang tidak peka. Cemburu buta merupakan manivestasi dari sebuah ketakutan.
Ada lagi yang tak kalah repot kalau cemburu pada pasangannya sendiri.
Misalnya saja: Seorang pria yang merasa rendah diri ketika memacari perempuan yang memiliki karier briliant. Pria ini cemburu sebab dibandingkan pacarnya- ia merasa prestasi kerjanya biasa-biasa saja. Soal kecerdasan, ia jauh di bawah sang kekasih.
Pria ini akhirnya merasa minder. Dalam beberapa kesempatan, ia tidak mau masuk ke dalam dunia sang perempuan, karena takut diremehkan atau tidak dianggap. Ia merasa harga dirinya terbanting. Padahal, belum tentu seperti itu.
Dalam perasaan cemburu, sang pria justru kehilangan rasa untuk mencintai. Ia akhirnya tidak mampu memberikan apresiasi pada sang kekasih. Nah- Tidak sedikit yang sering mencari gara-gara, seperti ingin pendapatnya didengar atau dibenarkan. Mau salah atau enggak, bodo amat! Yang penting menang dan diakui. Dari sini pun bisa menimbulkan pada sikap sentimen. Jadi cemburu itu bisa mengedepankan ego dan menyeret manusia dalam kesombongan.
Umumnya, banyak orang yang mengalami ini. Tapi tidak berusaha mencari solusi, atau mendiskusikannya. Tak sedikit yang memendamnya dan menganggap hal ini adalah sesuatu yang lumrah dan biasa.
Jadi, be carefull- jangan biarkan rasa itu mengendalikan Anda. Tanamkanlah rasa positif dalam memandang hidup. Tidak usah khawatir. Dalam relung hati terdalam manusia mana pun pasti memiliki cinta, hanya saja beda memaknainya.
Karena apapun yang diucapkan atas nama cinta – terasa kering bila tidak diiringi dengan perbuatan yang nyata. Bila ada seseorang yang cemburu buta, sebenarnya ia tidak mencintaimu. Ia sebenarnya hanya membutuhkan seseorang untuk melampiaskan egonya. Dan, dalam keadaan seperti itu- Uppsss Maaf – sebenarnya kamu tidak dicintai…..
Semoga menemukan cinta yang sejati!!!!!
Inget-Inget Pertama Kali Jatuh Cinta
![]() |
| diunduh dari www.2.bp.blogspot.com |
“Inget-inget deh pertama kali jatuh cinta,” begitu tutur teman saya dengan antusias. Perbincangan para gadis di kamar ini pun disambut meriah oleh teman-teman lainnya. Kisah bergulir pun muncul nggak karuan. Lucu, unik, dan barangkali terkesan ‘norak’
Ada yang suka dengan sebangkunya ketika SMP. Saat itu ia tidak jatuh cinta dengan pria bertubuh six pack, atau pria tampan sejagat raya. Mungkin juga cowok itu cueknya setengah mampus. Barangkali ia suka taruhan bola, dan bermain bola gebok di sela-sela istirahat.
Saat itu yang ada dikepala, bukanlah, “emang kerja loe apa? Jabatan loe apa? Atau, target merit kapan?” tapi ledakan emosi pada seorang ‘anak kemarin sore ini’ barangkali atas kesadaran, ‘sama-sama teman bermain’
Teman saya yang satu lagi mengulang kisah SMAnya. Saat itu ia tergila-gila sama teman sekelasnya. Cowok itu pendiam, santun, taat beragama, dan anak santri pula. Ketika pulang sekolah, boro-boro bilang ‘I Love You darling,”. Yang ada menahan kencing, keringat bergulir, jantung pun rasanya ingin copot.
Tapi karena rasa penasarannya yang terus menghantam, jadilah teman saya mengajak saya untuk mengutit cowok itu sepulang sekolah. Bayangkan, kami sampai naik turun 3 bus- untuk melacak jejak keseharian cowok itu. Adegan kejar-kejaran itu terasa lebih ‘hot’ dari film Avatar, juga lebih mengharukan dari film India…Wahahahaahhahahah- norak banget yaaa…..
Teman sekelas saya, pernah sekali ketahuan sama ortunya- ketika sepulang sekolah sedang pedekate- dengan temannya. Mereka saat itu sedang mangkal di restoran ‘junkfood’ depan sekolah. Padahal setelah memesan makanan, mereka hanya terdiam. Tidak ada kata, hanya tatapan malu yang berbicara. Tentang hati. Tentang perasaan, yang katanya, “cinta monyet”
Barangkali cinta yang malu-malu itu menjadi bahan tertawaan. Boro-boro mau anter si dia pulang. Ngedeketin aja sudah keringat dingin. Bayangkan saat itu, belum santer handphone, apalagi email-emailan dan facebook-an.
Pernah, seorang cowok menyatakan perasaan sukanya pada saya dengan sepucuk surat. Ia tidak memberikannya langsung. Tapi ‘sang messenger’ itu adalah sahabat karibnya, dan berkata padaku, “udahlah…terima aja” terus kaburrrrr!!!!!!
Kisah lucu ini tentunya tidak hanya saya alami. Setiap remaja memiliki dinamika masing-masing dalam penjajakan cinta. Biasanya kisah itu pun berlalu, seiring dengan pertumbuhan usia. ‘Kebetan’ pun ganti seiring dengan ganti sekolah, ganti teman sepermainan, atau karena kenal dengan dunia baru. Hal itu sangat lumrah.
Semakin dewasa, tentunya semakin banyak mengenal pria- kita pasti milih pula. Apalagi yang menjadi ‘konsultan cinta’ kita pun semakin banyak. Bisa jadi orangtua, teman, dan juga lingkungan terdekat: keluarga besar. Semua pastinya, berdalil sama: ingin melihat kita bahagia dan bersanding dengan pria mapan, dengan anggapan: pria mapan secara finansial pasti bertanggung jawab dan mampu membahagiakan keluarga.
Integritas seorang pria pun diukur dengan apa yang telah dihasilkannya. Kondisi seperti ini akhrinya menuntut banyak pria untuk melakukan apapun untuk mendapatkan uang, pangkat dan pengakuan. Pria juga manusia biasa. Mereka pun bisa goyah dan lemah. Intinya: mereka ingin dicintai.
Saya sangat menghargai beberapa kenalan yang mencarikan jodoh dengan informasi-informasi aktual dengan ‘pria-pria incaran tersebut’…Namanya juga usaha! Kata mereka, he he he …action dong! Beberapa teman melakukan sebagai proses alami. Mereka melakukan perjodohan dengan misi: ‘kali aja cocok’ …
Namun kerap kali pertemuan dua insan ini dibumbuhi dengan berbagai kontaminasi. Saat itu- tidak ada lagi cowok seksi versi ‘cinta monyet’ apalagi sampai menyatakan cinta lewat messenger- barangkali sekarang lewat Blackberry Messenger he he he he he
Dalam setiap pencarian jodoh. Pertanyaan pertama yang ingin diketahui perempuan adalah, “Apa pekerjaannya? Di kantor itu punya posisi apa? Manager kah? Atau pendatang baru? Sudah punya apa Mobil? Nyicil rumah? apartemen? Atau sebaliknya, anak lulusan baru yang masih menjajaki dunia kerja?”
Pernyataan itu spontan menyeruak ganas dalam pikiran kebanyakan perempuan. Namun, saya mengerti titik tuju yang ingin digapainya. Ujung-ujungnya perempuan ingin tau, “gajinya gede nggak? Punya posisi apa di kantornya? Pengen tau, kerja di perusahaan yang punya nama, atau ‘ecek-ecek’?...Tamatan luar negri? atau kampus dengan bayaran murah? S1? S2, atau PHD? Wah---Pengusaha papan atas kah? Atau papan bawah? (Asal jangan papan catur..he he he)”
“Duh- kira-kira yang model begini- bisa nggak menjamin hidup saya? Atau setidaknya- nggak malu-maluin dibawa ke acara keluarga? Setidaknya nanti, kan bisa sandar BMW di depan rumah”
Seorang teman saya yang baru saja melangsungkan pernikahannya menghampiri saya. Ia semangat menyala-nyala ia berkata, “jenggg!!!!! Gue kenalin sama teman gue” Saya pun tersenyum dan mengatakan terima kasih sama niat baiknya.
Tapi pastinya, pernyataan yang bergulir dibibirnya bukan lagi tentang si juara kelas pemenang olympiade, atau anak sebelah yang jago bermusik. Bukan juga cowok sebangku yang suka lagu rock and roll serta suka nonton serial Mr. Bean, sebaliknya, cinta monyet itu sudah terkikis sesuai dengan tuntutan jaman.
Teman saya pun mengucapkan, “duh- tunggu apalagi. Dia sudah punya rumah, mobil, dan jabatan. Usia juga sudah kepala tiga. Nah sekarang tinggal cari istri. Orangtua pengusaha…relasinya ini itu, temannya penjabat itu anu…. Kamu nggak usah repot mikirin tempat tinggal dan juga biaya pernikahan ratusan juta. Udah hajarrr mennn!!!!!!” Saya terkejut setengah mati. Saya lalu bercanda dengannya, “emang gue brunoooo….yang lihat anjing tetangga, langsung minta kawinnn”
hehehehehheheheh….GUBRAKKKK!!!
Tidak heran tuntuan atas dunia yang memandang secara ‘fisik luar’ membuat masalah semakin pelik. Hidup pun rasanya berat. Beberapa gadis yang saya kenal segera mengubah dirinya menjadi Barbie cantik. Sebagian melakukan suntik putih, mengerling manja (padahal tadinya nggak gitu) atau berpura-pura makan sedikit di hadapan pria. Mereka menjadi cantik dalam mengalah, menggemaskan dalam kebisuan, dan dipuja ketika menjadi ‘penurut' serta disayang karena bersikap seperti pelayan. Semua memakai pola yang sama, “Asal Bapak Senang”
Perilaku para gadis kian agresif, dengan harapan, ‘laku dengan harga tinggi’ … Gengsi pun sudah diraih. Keluarga pun hanya diam saja ketika sang gadis sudah mendapatkan ‘tempat terhormat’ di dalam masyarakat. Malahan pada bangga- gadis hasil didikan keluarganya hasilnya laris manis. Makanya, sikap pun harus dijaga:
“jangan ketawa gede-gede"
"makan jangan banyak-banyak"
"jangan keluyuran malem-malem"
" jangan melipat kaki di depan publik”
"Jangan tomboy"
Sebegitu banyak jangan, akhirnya, “jangan menjadi diri sendiri”….
Segudang nasihat pun menghantam tentang pernikahan. Biasanya perempuan akan dibekali nasihat sekaligus ancaman “inget ya…jaga keperawanan”
Keperawanan yang dimaksud adalah selaput darah, yang rentan bisa robek, karena aktivitas olah raga seperti senam atau balet. Jadilah nanti para gadis ini memendam hasratnya untuk menjadi atlit – karena nanti toh keperawanannya dipersembahkan untuk pasangan yang kaya, dan punya kedudukan. Jadi melacur pun ternyata nggak usah jauh-jauh ke tempat protitusi- melacur diri pada pasangan sendiri juga bisa. Cinta pun dimanfaatkan!
Rumah tangga pun ujung-ujungnya hampa. Setelah sekian tahun menikah, baru menyadari ‘sepertinya ada yang kosong’… Hal itu pun tak terbayarkan dengan pundi-pundi uang di tabungan yang kian membengkak. Rasa kesepian tidak juga bisa diobati dengan belanja keluar negri, pergi ke klinik kecantikan, atau bikin ‘private party’ dengan geng ibu-ibu arisan.
Kalau sudah begitu ada yang selingkuh dengan sopir, ada yang main kucing-kucing dengan ajudan suaminya. Apalagi? Trend hunting brondong?? Atau- gilanya- ada having seks dan ‘treesome’ dengan sesama jenis. Lesbiankah? Homoseksual? Atau manusia transgender? Duh, saya juga nggak tau!!!! Namun yang pasti, ketika jiwa menjadi sakit dan penuh tekanan, energi yang dikeluarkan tersalurkan lewat perilaku yang ‘absurd’
Nah- kejenuhan pun semakin melanda. Hidup serasa tak punya arah. Di saat itu barulah kita berpikir kembali ke titik NOL. Lalu mungkin kita bisa bercermin dan merenung, serta mengorek-ngorek masa lalu, “inget-inget deh pertama kali rasanya ketika jatuh cinta” Rasanya kangen deh ama ‘cinta monyet’…Cinta yang dipandang sebelah mata, culun dan ‘cupu’ banget!!!! Sebab pemilik rasa itu adalah anak kecil yang belum mengenal dunia. Barangkali ia jatuh cinta sama teman sebangku yang meminjamkan pensil dan penghapus. Atau- sama bocah tengil yang suka mengejeknya sepulang sekolah.
Namun cinta yang katanya kekanak-kanakan itu masih dilihat dari kacamata seorang bocah ingusan. Seringkali ditertawakan dengan ucapan, “MAKAN TUH CINTAAAAA” Tapi ketulusan cinta ini seorang anak yang belum menyentuh dunia orang dewasa, yang telah belum dikucuri oleh gaya hidup, status sosial dan gemerapnya dunia. Cinta murni.. namun menuai kontroversi….
Ketika perjalanan menjadi orang dewasa pun, kita sudah penuh dengan polesan. Cinta monyet pun menjadi cinta terlarang….Menikah haruslah memandang status sosial dan harga diri gengsi. Menikah harus seiman, dan se-kasta. Menikahlah untuk menunjukkan ‘sesuatu yang hebat’ pada dunia.
Akhirnya, kita lupa pada satu hal penting. Saat manusia membuang sesuatu yang murni dari hatinya- kecemasan pun melanda. Namun banyak manusia yang menyangkalnya. Dan di saat hati mulai terkoyak-koyak, ‘Cinta monyet’ pun bersuara dan menjerit…Bahwa ia masih ingin diberikan sebuah tempat di dalam jiwa kita yang paling dalam….
Jadi, “Inget-Inget deh pertama kali jatuh cinta”
Senin, 13 September 2010
Mencinta Hingga Terluka
![]() |
| diunduh: http://4.bp.blogspot.com |
“Hei, tau nggak, pacar kamu nge-duain kamu?”
“Tau” jawabnya tenang
“Dia bo’oing kamu, dia pergi tuh ama cewek lain!”
“Tau, dia barusan ngaku!” ucapnya tanpa amarah sedikit pun
“Loh? Dia udah mengkhianati kamu, emang kamu nggak marah?”
“Kenapa harus marah? Saya pun sering mengkhianati Tuhan, emang Dia marah?”
Saya bengong dan kaget bukan main. Saya nanya kok malah lempar bola. Malah nanya balik lagi. Duh, udah gitu pertanyaannya susah banget. Diam-diam saya mencoba merenungi. Seketika ada kegelisahan yang timbul dalam hati saya. Rasa ini membuat saya bertanya-tanya. Apakah dia sudah gila?
Anehnya, dia tak bergeming. Tidak ada dendam sedikitpun dalam matanya. Tidak ada makian, juga kebencian dan kesakitan. Dia tak berubah, tersenyum, seolah-olah badai manapun tak kuasa menghantamnya. Lalu, keyakinan apa yang membuatnya tetap bahagia?
Setelah saya desak. Ia akhirnya bercerita. Begini ungkapnya:
“Awalnya saya marah. Sebab, belakangan ini sikapnya tidak menyenangkan dan dingin. Semula dia bilang cinta, rindu dan segudang janji manis…Kini semua lenyap begitu saja. Ia akhirnya kepergok dan mengaku.
Saya begitu terpukul, begitu tau, ia ternyata telah bertualang dari satu perempuan ke perempuan lainnya. Seolah-olah perselingkuhan itu adalah wajar dan sudah menjadi tabiat. Bisa-bisanya dia bilang, semua ini hanya kekhilafan. Hanya seks. Saya tidak mengerti. Padahal saya telah menjadi pacar yang baik, perhatian dan setia. Tuhan, apakah ini balasannya? Dimana hati nuraninya?’
Saya menangis seharian. Ketika saya sudah sampai di puncak kelelahan, tiba-tiba ada suara dari dalam hati yang berkata, ‘Ampuni dia. Doakan dia. Sebab dia tidak tau dengan apa yang diperbuatnya’
Suara hati ini membuat saya merenung. Saya mencoba mengingat kembali tentang dirinya. Saya lupa, bahwa dibalik perilakunya yang menyebalkan itu, ada kisah masa lalu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Pacar saya berasal dari keluarga ‘broken home’. Sewaktu ia SD, ayahnya pergi meninggalkannya tanpa jejak. Sejak saat itu, sang ibu pun menjadi tulang punggung keluarga. Ia tumbuh dalam lingkungan yang tertekan, sebab sang ibu selalu melampiaskan kemarahan padanya. Bayangkan saja, bertahun-tahun ia mengalami penyiksaan mental dan kekerasan psikis. Apalagi, kemarahan hatinya semakin menjadi-jadi ketika ia mengetahui kalau ia anak yang tertolak.
Saya mulai menyadari, perilaku seseorang dipengaruhi masa kecilnya yang kelam. Peristiwa-peristiwa negatif pun seringkali meninggalkan luka dihatinya dan semua itu memerlukan pengobatan yang tidak sederhana.
Orang yang mengalami kepahitan cenderung menyendiri, sebab ia tidak mudah mempercayai orang lain, terlalu membentengi diri sendiri, prosesif dan manipulatif. Jadi nggak heran, dia terus nyakitin saya, sebagai upaya balas dendam.
Belum puas, dia terus mendatangi banyak perempuan. Ia membohongi perempuan-perempuan tersebut, atau bahkan tidur dengan mereka sebagai upaya penyaluran kemarahan. Setiap melihat perempuan yang tersakiti, ada kepuasan tersendiri dari dalam dirinya. Sebab ia melihat seseorang yang juga senasib dengannya. Sialnya, ia tak pernah sadar hal itu. Ia bahkan terus menyangkal dan mengatakan kalau ia baik-baik saja.
Tak jarang, para perempuan itu hanya mengambil keuntungan darinya. Sebagian dari mereka hanya menginginkan seks belaka. Yang menyedihkan tak sedikit yang juga mengincar duitnya doang. Barangkali perempuan-perempuan itu mendesah dan berkata, “seks kamu oke!” “Kamu hebat”
Padahal semua itu tipu. Dia pikir, ia telah mendapatkan kebahagiaan. Padahal semua itu semu. Setelah uangnya keluar, perempuan-perempuan itu lagi-lagi melakukan pola yang sama: segera berpakaian, merapikan diri, sebab ada ‘jadwal’ dengan lain orang. Mereka langsung pergi tanpa basa-basi dan menghampiri seorang ibu yang mereka panggil dengan sebutan mami.
Ada juga yang dipacari, namun menginginkan barang-barang mewah, dengan imbalan seks…Lagi-lagi seks jadi tawaran menggiurkan…Lagi-lagi seks menjadi senjata…
Dan, setelah itu ia merasa sendiri lagi. Merasa ditinggalkan….Merasa ditolak…
Saya tau, ada rasa percaya diri yang rendah dan ia menutupi dengan tidur sama banyak perempuan. Sebab, baginya ia dianggap jago, macho dan jantan. Ia butuh pengakuan, dan semua itu dicarinya dengan cara yang salah….
Saya menangis dan berdoa, “OH Tuhan, orangtua macam apa yang telah membentuknya seperti ini? Kehidupan seperti apa yang telah menghantarkannya menjadi seorang yang lapar akan cinta?”
Perlahan mata saya membasah. Saya berusaha mencintainya sebagai manusia yang sama-sama berdosa yang tak berarti apa-apa. Saya menangisi diri saya. Oh Tuhan, kenapa saya cuma bisa menunding? Kenapa saya mencelanya sebagai keparat yang tak tau diri? Kenapa saya terlampau menjadi sombong, dan merasa berhak menghakiminya?
Bukannya ia lebih sakit dari saya? Bukannya nasib saya masih jauh lebih beruntung? Sebab saya tinggal dalam keluarga yang utuh dan berlimpah akan kasih sayang. Sungguh saya tidak sadar, diam-diam ia juga menyimpan iri pada saya. Ia pun cemburu dengan apa yang saya miliki. Ia juga menginginkan kenyamanan hidupku.
Pantesan, ia kerap merenggek dan mencari-cari masalah. Ia marah dan memaki. Berkali kali ia berusaha mengintimidasi serta membuat saya tidak nyaman. Sungguh- melalui sikapnya yang tidak karu-karuan, seharusnya saya tau, bahwa ia adalah kanak-kanak yang sedang mencari perhatian.
Ada amarah yang tersembunyi. Semua kepahitannya itu telah berlapis-lapis dan menjadi bom waktu yang meledak. Dia adalah seorang pasien yang butuh pertolongan….
Ketika ia semakin melukai saya dengan segala kebohongan, kepalsuan, kemunafikan, sebenarnya ia tengah berupaya menyakiti dirinya sendiri. Oh Tuhan ampuni saya, kuatkan saya untuk membuka hatiku padanya. “
--------
Begitulah curhat teman saya…
Barangkali banyak dari teman-teman mengalami pengalaman yang serupa. Entah ditipu, dibohongin, disakiti, atau difitnah. Lebih menyakitkan lagi sebab yang melakukan hal itu adalah orang terdekat, bisa orangtua, sahabat, kakak adik, pacar, atau pasangan hidup.
Rasanya dunia runtuh. Selanjutnya, kita pun binggung. Pikiran ini pun dipenuhi dengan sejuta teror. Lalu, siapa lagi yang bisa kita percaya? Pastinya, hati kita menjerit, “Kok Saya? Kenapa harus saya??”
Welcome home bro….
Selamat datang, sebab Tuhan sedang menyapa Anda…
Memaafkan adalah sebuah proses dalam hidup manusia dalam mencapai kebebasan batin. Lagian, apa jadinya kalau terus menerus memendam rasa kepahitan? Bahkan ada yang sampai dibawa mati. Kepahitan adalah virus yang mematikan. Bila dipendam terus menerus bisa menimbulkan stres, depresi dan penyakit yang serius, bisa-bisa berlanjut kepada kematian.
Akibat yang ditimbulkan luka batin sangatlah kompleks. Hari-hari indah pun menjadi kelam. Lalu, bagaimana kita bisa memaafkan orang-orang yang benar-benar menyakiti kita?
Bagaimana bisa mengampuni perbuatan suami yang selingkuh?
Bagaimana bisa melupakan seseorang yang pernah membunuh salah satu anggota keluarga saya?
Bisakah mengampuni sang pemerkosa anak saya?
Bagaimana saya harus mengasihi mereka yang telah memfitnah saya?
Bagaimana memaafkan ibu yang membeda-bedakan perlakuan terhadap anak-anaknya?
Memang, untuk memaafkan harus dibutuhkan latihan, tekad dan hati yang lapang dada. Bila kita disakiti, kita biasanya menyalahkan orang lain. Tak sedikit yang melampiaskan dengan menebar kebencian juga dan mencari korban. Orang yang terus memendam perasaan ini, kehilangan rasa untuk menebar cinta. Lalu, apakah cinta sejati itu?
Ketika kita mencintai orang yang baik kepada kita, itu adalah cinta yang biasa. Namun, cinta itu menjadi luar biasa ketika kita memberikan pintu maaf kepada mereka yang menyakiti dan orang-orang yang memusuhi kita. Lalu, apa artinya kita kalah?
Bukan itu maksudnya. Melalui berbagai peristiwa, batin kita dikuatkan. Mengampuni bukan hanya melupakan, tapi juga menghilangkan luka-luka dalam hati kita. Mengampuni juga menunjukkan kita mampu menerima orang tersebut. Mengampuni bukanlah proses yang dilakukan dengan ‘sekali jadi’
Pengampunan adalah saat kita mengambil keputusan untuk berhenti membenci, sebab hal itu tidak ada gunanya. Teruslah mengampuni sampai rasa sakit itu hilang. Memaafkan itu melegakan. Memaafkan itu sehat. Memaafkan itu memberikan orang kesempatan untuk berubah. Kalau saja Tuhan memaafkan orang yang bersalah, masa kita tidak?
Memaafkan adalah cinta kasih. Bicara tentang cinta kasih, hal itu tidak identik dengan agama tertentu. Sebab, semua agama dan kepercayaan mengajari tentang cinta dan pengampunan. Buat teman-teman yang tengah mengalami luka batin, bayangkanlah wajah orang-orang yang pernah menyakiti kita dan katakan, “saya mau memaafkan kamu! Saya mencintai kamu, tanpa syarat….”
Semoga berhasil ya!!!!!!
(Ya- Tuhan, Engkau tidak pantas datang pada saya, tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh. Dan oleh seujung jubai-Mu- tersembuhkanlah luka yang mustahil pulih)
Rabu, 08 September 2010
Lady In Waiting: Sebuah Masa Penantian yang Indah
![]() |
| diunduh dari: www.lilinkecil.com |
Kondisi ini makin parah dengan keberadaan orang-orang di sekitarmu yang terus bertanya, “Kapan nyusul?”.
Kalimat ini pun akan terus memberondong dari mereka yang tidak peka. Akhirnya, kamu pun merasakan kesakitan yang teramat perih. Malu, takut dan ingin pergi. Sebab, pangeranmu belum juga datang…
Hold on Ladies…
Sejauh ini banyak perilaku kuatir para gadis yang belum menemukan pasangan hidupnya. Segala cara pun dilakukan untuk mencari yang terbaik. Tak jarang, semuanya dihalalkan supaya para gadis lepas dari statusnya yang ‘lajang’. Ada yang bersaing, saling tikam, merebut pacar orang dan bahkan perburuan calon suami pun berujung pada ajang saling pamer.
Namun satu sisi, banyak yang memilih aktif di kegiatan pelayanan dengan harapan mendapatkan pria saleh. Tak hanya itu, banyak wanita yang akhiernya bertualang sana sini untuk mendapatkan pria idamannya. Ada juga yang pindah gereja karena ia tidak menemukan pria harapannya. Bahkan ada yang mencari komunitas baru dengan maksud menggaet pria yang dianggap selevel, atau mungkin lebih bergengsi. Hal ini terjadi, karena banyak perempuan yang melihat suatu hubungan sebagai prospek masa depan.
Ini yang sering membuat seorang perempuan tidak bertahan di dalam sebuah pelayanan. Sebab ia tidak jua menemukan apa yang ia cari, lalu pindah lagi dan terus seperti itu. Jadi, segala sesuatunya tidak akan abadi selama kita berprinsip, “ada udang di balik batu”
Di satu sisi, ada yang bertekun dalam misi pelayanan. Namun perempuan ini terus bertanya dalam hati, “Tuhan, kalau aku terus melayani-Mu, apakah Engkau akan mengirimku pria baik, atau jangan-jangan aku tetap lajang? Gimana kalau aku terus mengikuti-Mu, tapi nantinya malah mendapatkan pria yang tidak setia dan tukang pukul?”
Ladies, mari kita belajar dari keteguhan hati Ruth dalam Lady In Waiting yang ditulis Jackie Kendall & Debbie Jones. Buku ini mengajarkan pada kita, bahwa, sebagai seorang wanita lajang, kita harus kuat menghadapi terpaan dalam hidup. Sebab seringkali, tekanan dalam masyarakat membuat seorang wanita malu akan status 'single' nya yang sering dipergunjingkan banyak orang.
Ruth justru bersikap tenang. Ia tidak bisa disetir oleh keadaan, sebab ia sudah menyerahkan semua kekuatirannya pada Tuhan,. Ia memusatkan perhatiannya untuk pada ketenangan batin.
Lady In Waiting membuka mata iman kita untuk berfokus pada tujuan kita, yaitu memuliakan nama-Nya. Sebab banyak wanita yang terpusat pada pencarian pria, bukan pencarian dirinya dalam menemukan Allah terlebih dahulu. Tak sedikit akhirnya yang memaksakan isu pernikahan itu dalam hidupnya, sementara ia belum mengerti hakikat cinta sejati berangkat dari ketulusan hati yang tidak meminta timbal balik.
Lady In Waiting mengulas kisah Ruth mengalami pembaharuan iman, kasih dan cinta yang berasal dari Tuhan. Ia merasa hidupnya utuh, meski ia melajang. Sebab ia yakin Tuhanlah yang menopangnya dan membuatnya utuh sebagai seorang wanita. Tanpa ragu-ragu Ruth terus melakukan kebaikan dan belajar hikmah kehidupan. Jiwanya terus dipuaskan oleh kasih Tuhan.
Ada kalanya, orang menganggap, seorang lajang patut dikasihani. Padahal, masa lajang adalah sebuah penantian yang luar biasa, dimana saat-saat ini bisa dipakai untuk merenung, dan bertemu dengan Tuhan, serta berbincang-bincang dengan-Nya. Barangkali, Tuhan sedang mempersiapkan Anda pada rencana-Nya yang lebih besar lagi.
Oleh karena itu, tidak usah ribut- kalau nanti menikah atau malah menjadi perawan tua. Serahkan semua hidupmu pada-Nya, sama seperti Ruth yang memberikan seluruh pengabdiannya. Jangan membuat skenario sendiri. Biarlah Tuhan yang menulis naskah hidupmu. Dia yang menghantarkanmu pada kehidupan yang tak pernah kamu duga sebelumnya. Sebab, Dia yang akan membuat semuanya indah, tepat pada waktunya.
Lady In Waiting bukan ditujukan untuk para single, namun bagi siapa saja yang ingin menemukan kebahagiaan hidupnya sebagai mempelai Allah yang dikasihi.
Menjadi wanita sejati, bukanlah harus mempunyai suami serta memiliki berbagai macam asuransi. Wanita sejati, adalah wanita yang menemukan cinta dalam persekutuannya dengan Tuhan. Wanita yang percaya, bahwa Tuhanlah sumber bahagianya. Ia menjadi seorang wanita ketika ia memberikan dirinya seperti yang Tuhan kehendaki.
Selamat berproses….





