Rabu, 22 September 2010

Inget-Inget Pertama Kali Jatuh Cinta

diunduh dari www.2.bp.blogspot.com


“Inget-inget deh pertama kali jatuh cinta,” begitu tutur teman saya dengan antusias. Perbincangan para gadis di kamar ini pun disambut meriah oleh teman-teman lainnya. Kisah bergulir pun muncul nggak karuan. Lucu, unik, dan barangkali terkesan ‘norak’

Ada yang suka dengan sebangkunya ketika SMP. Saat itu ia tidak jatuh cinta dengan pria bertubuh six pack, atau pria tampan sejagat raya. Mungkin juga cowok itu cueknya setengah mampus. Barangkali ia suka taruhan bola, dan bermain bola gebok di sela-sela istirahat.

Saat itu yang ada dikepala, bukanlah, “emang kerja loe apa? Jabatan loe apa? Atau, target merit kapan?” tapi ledakan emosi pada seorang ‘anak kemarin sore ini’ barangkali atas kesadaran, ‘sama-sama teman bermain’

Teman saya yang satu lagi mengulang kisah SMAnya. Saat itu ia tergila-gila sama teman sekelasnya. Cowok itu pendiam, santun, taat beragama, dan anak santri pula. Ketika pulang sekolah, boro-boro bilang ‘I Love You darling,”. Yang ada menahan kencing, keringat bergulir, jantung pun rasanya ingin copot.

Tapi karena rasa penasarannya yang terus menghantam, jadilah teman saya mengajak saya untuk mengutit cowok itu sepulang sekolah. Bayangkan, kami sampai naik turun 3 bus- untuk melacak jejak keseharian cowok itu. Adegan kejar-kejaran itu terasa lebih ‘hot’ dari film Avatar, juga lebih mengharukan dari film India…Wahahahaahhahahah- norak banget yaaa…..

Teman sekelas saya, pernah sekali ketahuan sama ortunya- ketika sepulang sekolah sedang pedekate- dengan temannya. Mereka saat itu sedang mangkal di restoran ‘junkfood’ depan sekolah. Padahal setelah memesan makanan, mereka hanya terdiam. Tidak ada kata, hanya tatapan malu yang berbicara. Tentang hati. Tentang perasaan, yang katanya, “cinta monyet”

Barangkali cinta yang malu-malu itu menjadi bahan tertawaan. Boro-boro mau anter si dia pulang. Ngedeketin aja sudah keringat dingin. Bayangkan saat itu, belum santer handphone, apalagi email-emailan dan facebook-an.

Pernah, seorang cowok menyatakan perasaan sukanya pada saya dengan sepucuk surat. Ia tidak memberikannya langsung. Tapi ‘sang messenger’ itu adalah sahabat karibnya, dan berkata padaku, “udahlah…terima aja” terus kaburrrrr!!!!!!

Kisah lucu ini tentunya tidak hanya saya alami. Setiap remaja memiliki dinamika masing-masing dalam penjajakan cinta. Biasanya kisah itu pun berlalu, seiring dengan pertumbuhan usia. ‘Kebetan’ pun ganti seiring dengan ganti sekolah, ganti teman sepermainan, atau karena kenal dengan dunia baru. Hal itu sangat lumrah.

Semakin dewasa, tentunya semakin banyak mengenal pria- kita pasti milih pula. Apalagi yang menjadi ‘konsultan cinta’ kita pun semakin banyak. Bisa jadi orangtua, teman, dan juga lingkungan terdekat: keluarga besar. Semua pastinya, berdalil sama: ingin melihat kita bahagia dan bersanding dengan pria mapan, dengan anggapan: pria mapan secara finansial pasti bertanggung jawab dan mampu membahagiakan keluarga.

Integritas seorang pria pun diukur dengan apa yang telah dihasilkannya. Kondisi seperti ini akhrinya menuntut banyak pria untuk melakukan apapun untuk mendapatkan uang, pangkat dan pengakuan. Pria juga manusia biasa. Mereka pun bisa goyah dan lemah. Intinya: mereka ingin dicintai.

Saya sangat menghargai beberapa kenalan yang mencarikan jodoh dengan informasi-informasi aktual dengan ‘pria-pria incaran tersebut’…Namanya juga usaha! Kata mereka, he he he …action dong! Beberapa teman melakukan sebagai proses alami. Mereka melakukan perjodohan dengan misi: ‘kali aja cocok’ …

Namun kerap kali pertemuan dua insan ini dibumbuhi dengan berbagai kontaminasi. Saat itu- tidak ada lagi cowok seksi versi ‘cinta monyet’ apalagi sampai menyatakan cinta lewat messenger- barangkali sekarang lewat Blackberry Messenger he he he he he

Dalam setiap pencarian jodoh. Pertanyaan pertama yang ingin diketahui perempuan adalah, “Apa pekerjaannya? Di kantor itu punya posisi apa? Manager kah? Atau pendatang baru? Sudah punya apa Mobil? Nyicil rumah? apartemen? Atau sebaliknya, anak lulusan baru yang masih menjajaki dunia kerja?”

Pernyataan itu spontan menyeruak ganas dalam pikiran kebanyakan perempuan. Namun, saya mengerti titik tuju yang ingin digapainya. Ujung-ujungnya perempuan ingin tau, “gajinya gede nggak? Punya posisi apa di kantornya? Pengen tau, kerja di perusahaan yang punya nama, atau ‘ecek-ecek’?...Tamatan luar negri? atau kampus dengan bayaran murah? S1? S2, atau PHD? Wah---Pengusaha papan atas kah? Atau papan bawah? (Asal jangan papan catur..he he he)”

“Duh- kira-kira yang model begini- bisa nggak menjamin hidup saya? Atau setidaknya- nggak malu-maluin dibawa ke acara keluarga? Setidaknya nanti, kan bisa sandar BMW di depan rumah”

Seorang teman saya yang baru saja melangsungkan pernikahannya menghampiri saya. Ia semangat menyala-nyala ia berkata, “jenggg!!!!! Gue kenalin sama teman gue” Saya pun tersenyum dan mengatakan terima kasih sama niat baiknya.

Tapi pastinya, pernyataan yang bergulir dibibirnya bukan lagi tentang si juara kelas pemenang olympiade, atau anak sebelah yang jago bermusik. Bukan juga cowok sebangku yang suka lagu rock and roll serta suka nonton serial Mr. Bean, sebaliknya, cinta monyet itu sudah terkikis sesuai dengan tuntutan jaman.

Teman saya pun mengucapkan, “duh- tunggu apalagi. Dia sudah punya rumah, mobil, dan jabatan. Usia juga sudah kepala tiga. Nah sekarang tinggal cari istri. Orangtua pengusaha…relasinya ini itu, temannya penjabat itu anu…. Kamu nggak usah repot mikirin tempat tinggal dan juga biaya pernikahan ratusan juta. Udah hajarrr mennn!!!!!!” Saya terkejut setengah mati. Saya lalu bercanda dengannya, “emang gue brunoooo….yang lihat anjing tetangga, langsung minta kawinnn”

hehehehehheheheh….GUBRAKKKK!!!

Tidak heran tuntuan atas dunia yang memandang secara ‘fisik luar’ membuat masalah semakin pelik. Hidup pun rasanya berat. Beberapa gadis yang saya kenal segera mengubah dirinya menjadi Barbie cantik. Sebagian melakukan suntik putih, mengerling manja (padahal tadinya nggak gitu) atau berpura-pura makan sedikit di hadapan pria. Mereka menjadi cantik dalam mengalah, menggemaskan dalam kebisuan, dan dipuja ketika menjadi ‘penurut' serta disayang karena bersikap seperti pelayan. Semua memakai pola yang sama, “Asal Bapak Senang”

Perilaku para gadis kian agresif, dengan harapan, ‘laku dengan harga tinggi’ … Gengsi pun sudah diraih. Keluarga pun hanya diam saja ketika sang gadis sudah mendapatkan ‘tempat terhormat’ di dalam masyarakat. Malahan pada bangga- gadis hasil didikan keluarganya hasilnya laris manis. Makanya, sikap pun harus dijaga:

“jangan ketawa gede-gede"
"makan jangan banyak-banyak"
"jangan keluyuran malem-malem"
" jangan melipat kaki di depan publik”
"Jangan tomboy"
Sebegitu banyak jangan, akhirnya, “jangan menjadi diri sendiri”….

Segudang nasihat pun menghantam tentang pernikahan. Biasanya perempuan akan dibekali nasihat sekaligus ancaman “inget ya…jaga keperawanan”

Keperawanan yang dimaksud adalah selaput darah, yang rentan bisa robek, karena aktivitas olah raga seperti senam atau balet. Jadilah nanti para gadis ini memendam hasratnya untuk menjadi atlit – karena nanti toh keperawanannya dipersembahkan untuk pasangan yang kaya, dan punya kedudukan. Jadi melacur pun ternyata nggak usah jauh-jauh ke tempat protitusi- melacur diri pada pasangan sendiri juga bisa. Cinta pun dimanfaatkan!

Rumah tangga pun ujung-ujungnya hampa. Setelah sekian tahun menikah, baru menyadari ‘sepertinya ada yang kosong’… Hal itu pun tak terbayarkan dengan pundi-pundi uang di tabungan yang kian membengkak. Rasa kesepian tidak juga bisa diobati dengan belanja keluar negri, pergi ke klinik kecantikan, atau bikin ‘private party’ dengan geng ibu-ibu arisan.

Kalau sudah begitu ada yang selingkuh dengan sopir, ada yang main kucing-kucing dengan ajudan suaminya. Apalagi? Trend hunting brondong?? Atau- gilanya- ada having seks dan ‘treesome’ dengan sesama jenis. Lesbiankah? Homoseksual? Atau manusia transgender? Duh, saya juga nggak tau!!!! Namun yang pasti, ketika jiwa menjadi sakit dan penuh tekanan, energi yang dikeluarkan tersalurkan lewat perilaku yang ‘absurd’

Nah- kejenuhan pun semakin melanda. Hidup serasa tak punya arah. Di saat itu barulah kita berpikir kembali ke titik NOL. Lalu mungkin kita bisa bercermin dan merenung, serta mengorek-ngorek masa lalu, “inget-inget deh pertama kali rasanya ketika jatuh cinta” Rasanya kangen deh ama ‘cinta monyet’…Cinta yang dipandang sebelah mata, culun dan ‘cupu’ banget!!!! Sebab pemilik rasa itu adalah anak kecil yang belum mengenal dunia. Barangkali ia jatuh cinta sama teman sebangku yang meminjamkan pensil dan penghapus. Atau- sama bocah tengil yang suka mengejeknya sepulang sekolah.

Namun cinta yang katanya kekanak-kanakan itu masih dilihat dari kacamata seorang bocah ingusan. Seringkali ditertawakan dengan ucapan, “MAKAN TUH CINTAAAAA” Tapi ketulusan cinta ini seorang anak yang belum menyentuh dunia orang dewasa, yang telah belum dikucuri oleh gaya hidup, status sosial dan gemerapnya dunia. Cinta murni.. namun menuai kontroversi….

Ketika perjalanan menjadi orang dewasa pun, kita sudah penuh dengan polesan. Cinta monyet pun menjadi cinta terlarang….Menikah haruslah memandang status sosial dan harga diri gengsi. Menikah harus seiman, dan se-kasta. Menikahlah untuk menunjukkan ‘sesuatu yang hebat’ pada dunia.

Akhirnya, kita lupa pada satu hal penting. Saat manusia membuang sesuatu yang murni dari hatinya- kecemasan pun melanda. Namun banyak manusia yang menyangkalnya. Dan di saat hati mulai terkoyak-koyak, ‘Cinta monyet’ pun bersuara dan menjerit…Bahwa ia masih ingin diberikan sebuah tempat di dalam jiwa kita yang paling dalam….

Jadi, “Inget-Inget deh pertama kali jatuh cinta”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar