 |
| diunduh: http://4.bp.blogspot.com |
“Hei, tau nggak, pacar kamu nge-duain kamu?”
“Tau” jawabnya tenang
“Dia bo’oing kamu, dia pergi tuh ama cewek lain!”
“Tau, dia barusan ngaku!” ucapnya tanpa amarah sedikit pun
“Loh? Dia udah mengkhianati kamu, emang kamu nggak marah?”
“Kenapa harus marah? Saya pun sering mengkhianati Tuhan, emang Dia marah?”
Saya bengong dan kaget bukan main. Saya nanya kok malah lempar bola. Malah nanya balik lagi. Duh, udah gitu pertanyaannya susah banget. Diam-diam saya mencoba merenungi. Seketika ada kegelisahan yang timbul dalam hati saya. Rasa ini membuat saya bertanya-tanya. Apakah dia sudah gila?
Anehnya, dia tak bergeming. Tidak ada dendam sedikitpun dalam matanya. Tidak ada makian, juga kebencian dan kesakitan. Dia tak berubah, tersenyum, seolah-olah badai manapun tak kuasa menghantamnya. Lalu, keyakinan apa yang membuatnya tetap bahagia?
Setelah saya desak. Ia akhirnya bercerita. Begini ungkapnya:
“Awalnya saya marah. Sebab, belakangan ini sikapnya tidak menyenangkan dan dingin. Semula dia bilang cinta, rindu dan segudang janji manis…Kini semua lenyap begitu saja. Ia akhirnya kepergok dan mengaku.
Saya begitu terpukul, begitu tau, ia ternyata telah bertualang dari satu perempuan ke perempuan lainnya. Seolah-olah perselingkuhan itu adalah wajar dan sudah menjadi tabiat. Bisa-bisanya dia bilang, semua ini hanya kekhilafan. Hanya seks. Saya tidak mengerti. Padahal saya telah menjadi pacar yang baik, perhatian dan setia. Tuhan, apakah ini balasannya? Dimana hati nuraninya?’
Saya menangis seharian. Ketika saya sudah sampai di puncak kelelahan, tiba-tiba ada suara dari dalam hati yang berkata, ‘Ampuni dia. Doakan dia. Sebab dia tidak tau dengan apa yang diperbuatnya’
Suara hati ini membuat saya merenung. Saya mencoba mengingat kembali tentang dirinya. Saya lupa, bahwa dibalik perilakunya yang menyebalkan itu, ada kisah masa lalu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Pacar saya berasal dari keluarga ‘broken home’. Sewaktu ia SD, ayahnya pergi meninggalkannya tanpa jejak. Sejak saat itu, sang ibu pun menjadi tulang punggung keluarga. Ia tumbuh dalam lingkungan yang tertekan, sebab sang ibu selalu melampiaskan kemarahan padanya. Bayangkan saja, bertahun-tahun ia mengalami penyiksaan mental dan kekerasan psikis. Apalagi, kemarahan hatinya semakin menjadi-jadi ketika ia mengetahui kalau ia anak yang tertolak.
Saya mulai menyadari, perilaku seseorang dipengaruhi masa kecilnya yang kelam. Peristiwa-peristiwa negatif pun seringkali meninggalkan luka dihatinya dan semua itu memerlukan pengobatan yang tidak sederhana.
Orang yang mengalami kepahitan cenderung menyendiri, sebab ia tidak mudah mempercayai orang lain, terlalu membentengi diri sendiri, prosesif dan manipulatif. Jadi nggak heran, dia terus nyakitin saya, sebagai upaya balas dendam.
Belum puas, dia terus mendatangi banyak perempuan. Ia membohongi perempuan-perempuan tersebut, atau bahkan tidur dengan mereka sebagai upaya penyaluran kemarahan. Setiap melihat perempuan yang tersakiti, ada kepuasan tersendiri dari dalam dirinya. Sebab ia melihat seseorang yang juga senasib dengannya. Sialnya, ia tak pernah sadar hal itu. Ia bahkan terus menyangkal dan mengatakan kalau ia baik-baik saja.
Tak jarang, para perempuan itu hanya mengambil keuntungan darinya. Sebagian dari mereka hanya menginginkan seks belaka. Yang menyedihkan tak sedikit yang juga mengincar duitnya doang. Barangkali perempuan-perempuan itu mendesah dan berkata, “seks kamu oke!” “Kamu hebat”
Padahal semua itu tipu. Dia pikir, ia telah mendapatkan kebahagiaan. Padahal semua itu semu. Setelah uangnya keluar, perempuan-perempuan itu lagi-lagi melakukan pola yang sama: segera berpakaian, merapikan diri, sebab ada ‘jadwal’ dengan lain orang. Mereka langsung pergi tanpa basa-basi dan menghampiri seorang ibu yang mereka panggil dengan sebutan mami.
Ada juga yang dipacari, namun menginginkan barang-barang mewah, dengan imbalan seks…Lagi-lagi seks jadi tawaran menggiurkan…Lagi-lagi seks menjadi senjata…
Dan, setelah itu ia merasa sendiri lagi. Merasa ditinggalkan….Merasa ditolak…
Saya tau, ada rasa percaya diri yang rendah dan ia menutupi dengan tidur sama banyak perempuan. Sebab, baginya ia dianggap jago, macho dan jantan. Ia butuh pengakuan, dan semua itu dicarinya dengan cara yang salah….
Saya menangis dan berdoa, “OH Tuhan, orangtua macam apa yang telah membentuknya seperti ini? Kehidupan seperti apa yang telah menghantarkannya menjadi seorang yang lapar akan cinta?”
Perlahan mata saya membasah. Saya berusaha mencintainya sebagai manusia yang sama-sama berdosa yang tak berarti apa-apa. Saya menangisi diri saya. Oh Tuhan, kenapa saya cuma bisa menunding? Kenapa saya mencelanya sebagai keparat yang tak tau diri? Kenapa saya terlampau menjadi sombong, dan merasa berhak menghakiminya?
Bukannya ia lebih sakit dari saya? Bukannya nasib saya masih jauh lebih beruntung? Sebab saya tinggal dalam keluarga yang utuh dan berlimpah akan kasih sayang. Sungguh saya tidak sadar, diam-diam ia juga menyimpan iri pada saya. Ia pun cemburu dengan apa yang saya miliki. Ia juga menginginkan kenyamanan hidupku.
Pantesan, ia kerap merenggek dan mencari-cari masalah. Ia marah dan memaki. Berkali kali ia berusaha mengintimidasi serta membuat saya tidak nyaman. Sungguh- melalui sikapnya yang tidak karu-karuan, seharusnya saya tau, bahwa ia adalah kanak-kanak yang sedang mencari perhatian.
Ada amarah yang tersembunyi. Semua kepahitannya itu telah berlapis-lapis dan menjadi bom waktu yang meledak. Dia adalah seorang pasien yang butuh pertolongan….
Ketika ia semakin melukai saya dengan segala kebohongan, kepalsuan, kemunafikan, sebenarnya ia tengah berupaya menyakiti dirinya sendiri. Oh Tuhan ampuni saya, kuatkan saya untuk membuka hatiku padanya. “
--------
Begitulah curhat teman saya…
Barangkali banyak dari teman-teman mengalami pengalaman yang serupa. Entah ditipu, dibohongin, disakiti, atau difitnah. Lebih menyakitkan lagi sebab yang melakukan hal itu adalah orang terdekat, bisa orangtua, sahabat, kakak adik, pacar, atau pasangan hidup.
Rasanya dunia runtuh. Selanjutnya, kita pun binggung. Pikiran ini pun dipenuhi dengan sejuta teror. Lalu, siapa lagi yang bisa kita percaya? Pastinya, hati kita menjerit, “Kok Saya? Kenapa harus saya??”
Welcome home bro….
Selamat datang, sebab Tuhan sedang menyapa Anda…
Memaafkan adalah sebuah proses dalam hidup manusia dalam mencapai kebebasan batin. Lagian, apa jadinya kalau terus menerus memendam rasa kepahitan? Bahkan ada yang sampai dibawa mati. Kepahitan adalah virus yang mematikan. Bila dipendam terus menerus bisa menimbulkan stres, depresi dan penyakit yang serius, bisa-bisa berlanjut kepada kematian.
Akibat yang ditimbulkan luka batin sangatlah kompleks. Hari-hari indah pun menjadi kelam. Lalu, bagaimana kita bisa memaafkan orang-orang yang benar-benar menyakiti kita?
Bagaimana bisa mengampuni perbuatan suami yang selingkuh?
Bagaimana bisa melupakan seseorang yang pernah membunuh salah satu anggota keluarga saya?
Bisakah mengampuni sang pemerkosa anak saya?
Bagaimana saya harus mengasihi mereka yang telah memfitnah saya?
Bagaimana memaafkan ibu yang membeda-bedakan perlakuan terhadap anak-anaknya?
Memang, untuk memaafkan harus dibutuhkan latihan, tekad dan hati yang lapang dada. Bila kita disakiti, kita biasanya menyalahkan orang lain. Tak sedikit yang melampiaskan dengan menebar kebencian juga dan mencari korban. Orang yang terus memendam perasaan ini, kehilangan rasa untuk menebar cinta. Lalu, apakah cinta sejati itu?
Ketika kita mencintai orang yang baik kepada kita, itu adalah cinta yang biasa. Namun, cinta itu menjadi luar biasa ketika kita memberikan pintu maaf kepada mereka yang menyakiti dan orang-orang yang memusuhi kita. Lalu, apa artinya kita kalah?
Bukan itu maksudnya. Melalui berbagai peristiwa, batin kita dikuatkan. Mengampuni bukan hanya melupakan, tapi juga menghilangkan luka-luka dalam hati kita. Mengampuni juga menunjukkan kita mampu menerima orang tersebut. Mengampuni bukanlah proses yang dilakukan dengan ‘sekali jadi’
Pengampunan adalah saat kita mengambil keputusan untuk berhenti membenci, sebab hal itu tidak ada gunanya. Teruslah mengampuni sampai rasa sakit itu hilang. Memaafkan itu melegakan. Memaafkan itu sehat. Memaafkan itu memberikan orang kesempatan untuk berubah. Kalau saja Tuhan memaafkan orang yang bersalah, masa kita tidak?
Memaafkan adalah cinta kasih. Bicara tentang cinta kasih, hal itu tidak identik dengan agama tertentu. Sebab, semua agama dan kepercayaan mengajari tentang cinta dan pengampunan. Buat teman-teman yang tengah mengalami luka batin, bayangkanlah wajah orang-orang yang pernah menyakiti kita dan katakan, “saya mau memaafkan kamu! Saya mencintai kamu, tanpa syarat….”
Semoga berhasil ya!!!!!!
(Ya- Tuhan, Engkau tidak pantas datang pada saya, tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh. Dan oleh seujung jubai-Mu- tersembuhkanlah luka yang mustahil pulih)